Sabtu, 24 Agustus 2013

WORTEL, TELUR ATAU KOPI

Wortel, Telur atau Kopi? Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih. Selama itu ia terdiam seribu bahasa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi, ” jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. “Apa maksud semua ini, ayah?” tanya sang anak. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu. Maka, yang manakah dirimu?” tanya sang ayah pada anaknya. “Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?

JIKA ENGKAU CERAIKAN AKU, BOPONG AKU DIPANGKUANMU

JIKA ENGKAU MENCERAIKAN AKU, BAWA AKU DIPANGKUANMU Pada hari pernikahan Anton dan Wati, Anton membopong istrinya. Mobil pengantin berhenti didepan flat mereka berkamar satu. Sahabat-sahabatnya menyuruh Anton untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi Dia bopong Wati memasuki rumahnya. Wati kelihatan malu-malu. Anton adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening : Mereka mempunyai seorang anak, Anton terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara mereka pun semakin surut. Wati adalah pegawai sipil. Setiap pagi mereka berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak mereka sedang belajar di luar negeri. Perkawinan mereka kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak Anton sangka-sangka, Mira hadir dalam kehidupan Anton. Waktu itu adalah hari yg cerah. Anton berdiri di balkon dengan Mira yg sedang merangkul Anton. Hati Anton sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartemen yg Anton belikan untuknya. Mira berkata, “kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkan Anton pada istrinya. Ketika mereka baru menikah, istrinya pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Anton menjadi ragu-ragu. Anton tahu kalau dia telah menghianati istrinya. Tapi Anton tidak sanggup menghentikannya. Anton melepaskan tangan Mira dan berkata, “kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”. Kelihatan ia jadi tidak senang karena Anton telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiran Anton walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, Anton merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istrinya. Walau bagaimanapun Dia jelaskan, Wati pasti akan sangat terluka.Sejujurnya Wati adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Anton duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu mereka akan menonton TV sama-sama. Atau Anton akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Mira. Ini adalah hiburan baginya Suatu hari Anton berbicara dalam guyon, “seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? ” Ia menatap pada Anton selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari dirinya. Anton tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa Anton serius. Ketika istri Anton mengunjungi kantornya, Mira baru saja keluar dari ruangan kerja Anton. Hampir seluruh staff menatap Wati dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Dia kelihatan sedikit curiga. Dia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahan Anton. Tapi Anton membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Mira berkata pada Anton,”He Ton, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.” Anton mengangguk Anton tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istrinya menyiapkan makan malam, Anton memegang tangannya. “Ada sesuatu yg harus kukatakan”. Wati duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi Anton melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba Anton tidak tahu harus berkata apa. Tapi Wati tahu kalau Anton terus berpikir. “Aku ingin bercerai”,Anton ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Wati seperti tidak terpengaruh oleh kata-katanya,tapi Wati bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku serius.”Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat Wati sangat marah. Dia melemparkan sumpit dan berteriak kepada Anton, “Kamu bukan laki-laki!”. Pada malam itu, mereka saling membisu. Wati sedang menangis. Anton tahu kalau Wati ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan mereka. Tapi Anton tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatinya telah dibawa pergi oleh Mira. Dengan perasaan yg amat bersalah, Anton menuliskan surai perceraian dimana istrinya memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaannya. Wati memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Anton merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamanya sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupnya. Tapi Anton tidak bisa menarik kembali apa yg telah diucapkan. Akhirnya Wati menangis dengan keras didepannya, dimana hal tersebut tidak pernah Anton lihat sebelumnya. Baginya, tangisannya merupakan suatu pembebasan untuknya. Ide perceraian telah menghantuinya dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi. Pada larut malam, Anton kembali ke rumah setelah menemui kliennya. Anton melihat Wati sedang menulis sesuatu. Karena capek Anton segera ketiduran. Ketika Anton terbangun tengah malam, dia melihat Wati masih menulis. Anton tertidur kembali. Wati menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya : ia tidak menginginkan apapun dari Anton, tapi Anton harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu mereka harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak mereka akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan Wati tidak ingin anaknya melihat kehancuran rumah tangganya. Wati menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ton, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadanya. Anton mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku sampai waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.” Anton menerima dengan senyum. Anton tahu Wati merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis. Anton memberitahukan Mira soal syarat-syarat perceraian dari istrinya. Mira tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” Mira mencemooh Kata- katanya membuat Anton merasa tidak enak. Istrinya dan Anton tidak mengadakan kontak badan lagi sejak dia katakan perceraian itu. mereka saling menganggap orang asing. Jadi ketika Anton membopongnya dihari pertama, mereka kelihatan salah tingkah. Anaknya menepuk punggung mereka,”wah, papa membopong mama, mesra sekali”. Kata-katanya membuat Anton merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, Anton berjalan 10 meter dengan dirinya dalam lengannya. Wati memejamkan mata dan berkata dengan lembut,”mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Anton mengangguk, merasa sedikit bimbang. Anton melepaskan Wati di pintu. Wati pergi menunggu bus, dan Anton pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi mereka terasa lebih mudah. Wati merebah di dadanya, Mereka begitu dekat sampai-sampai Anton bisa mencium wangi di bajunya. Anton menyadari bahwa Dia telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Anton melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, Wati berbisik pada Anton, “kebun diluar sedang dibongkar. Hati-hati kalau kamu lewat sana.” Hari keempat,ketika Anton membangunkannya, Anton merasa kalau mereka masih mesra seperti sepasang suami istri dan Anton masih membopong kekasihnya dilengannya. Bayangan Mira menjadi samar. Pada hari kelima dan keenam, Wati masih mengingatkan Anton beberapa hal, seperti dimana Wati telah menyimpan baju-baju Anton yg telah Wati setrika, Anton harus hati-hati saat memasak, dll. Anton mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Anton tidak memberitahu Mira tentang hal ini. Anton merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuat Anton semakin kuat. Anton berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang” Wati sedang mencoba pakaiannya, Anton sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Wati berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu Wati melihat, “semua pakaianku kebesaran”. Anton tersenyum. Tapi tiba-tiba Anton menyadarinya, sebab Wati semakin kurus, itu sebabnya Anton bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan Anton semakin kuat. Anton tahu Wati mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, Anton merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar Anton sentuh kepalanya. Anak mereka masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar.” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Wati memberikan isyarat agar anaknya mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Anton membalikkan wajah sebab Anton takut akan berubah pikiran pada detik terakhir. Anton menyanggah Wati dilengannya, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegang Anton secara lembut dan alami. Anton menyanggah badannya dengan kuat seperti mereka kembali ke hari pernikahannya. Tapi Wati kelihatan agak pucat dan kurus, membuat Anton sedih. Pada hari terakhir, ketika Anton membopongnya dilengannya, Anton melangkah dengan berat. Anaknya telah kembali ke sekolah. Wati berkata, “sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua.” Anton memeluknya dengan kuat dan berkata “antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”. Anton melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Anton takut keterlambatan akan membuat pikirannya berubah. Anton menaiki tangga. Mira membuka pintu. Anton berkata padanya,” Maaf Mira, aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Mira melihat kepadanya, kaget. Ia menyentuh dahi Anton. “Kamu tidak demam.” Kutepiskan tangannya dari dahi Anton. “Maaf Mira, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”. Mira tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Anton menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan Anton melewati sebuah toko bunga. Dia pesan sebuah buket bunga kesayangan istrinya. Penjualnya bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Anton tersenyum dan menulis : “Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.”

RAMADHAN HOLIDAY 2013

" Be part of the solution, never the problem; be part of a creation, never of a submission. Life's too short for people to hold you back. Be a part of an enterprise but never of a compromise." "Life is like a wheel, sometimes you will be on the top, sometimes you will be at the bottom. It is not important when we become on the top or at the bottom. But the most important is thank God when success and patient when fail." 10% of conflicts are due to difference in opinion and 90% are due to wrong tone of voice.

GARAM DAN TELAGA

GARAM DAN TELAGA Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi. datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama, la lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba. minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu. sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum, la. lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air. mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi. "Bagaimana rasanya?". "Segar", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. 'Tidak", jawab si anak muda. Dengan bijak. Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. la lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu. akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan." Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa